Hai Sobat Ekraf! Dalam upaya mendukung pemberdayaan pelaku usaha kreatif dan mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif, Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mengunjungi area operasional Asia Pacific Rayon (APR) di Pangkalan Kerinci, Riau, Rabu (11/12/2024). Kunjungan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor demi mewujudkan desa-desa kreatif yang berbasis budaya dan kreativitas lokal.

Workshop Literasi Keuangan dan Akses Pembiayaan

Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penutupan Workshop Literasi Keuangan dan Akses Pembiayaan, yang berlangsung di Hotel Unigraha, Riau Kompleks. Workshop tersebut melibatkan 30 pelaku usaha di bidang kuliner, kriya, dan fashion, bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha sekaligus membuka akses pembiayaan yang lebih luas.

“Ini adalah wujud sinergi heksa-helix, di mana pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, asosiasi, dan lembaga keuangan bersatu untuk mengembangkan ekonomi kreatif di desa. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain di Indonesia,” ujar Menekraf Teuku Riefky.

Workshop ini merupakan bagian dari agenda 100 hari kerja Presiden Prabowo Subianto, yang menitikberatkan pada pemberantasan kemiskinan melalui kewirausahaan dan pemerataan ekonomi.

Desa Kreatif: Katalis Pemerataan Ekonomi

Menurut Menekraf Riefky, desa kreatif adalah strategi efektif untuk mengangkat potensi budaya dan kreativitas lokal dari 17 subsektor ekonomi kreatif.

“Desa kreatif adalah katalis bagi pemerataan ekonomi nasional. Melalui pelatihan ini, kami ingin menciptakan kawasan yang mampu menghasilkan produk unggulan berbasis kreativitas dan budaya lokal,” ungkapnya.

Dengan dukungan kolaborasi lintas sektor, termasuk dunia usaha seperti APR dan APRIL (sister company APR), desa kreatif diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Komitmen Dunia Usaha dalam Pengembangan Desa Kreatif

Presiden Direktur APR, Basrie Kamba, menyatakan komitmennya dalam mendukung pengembangan desa kreatif melalui program pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan.

“Kami berkomitmen membantu masyarakat dalam radius 50 km dari perusahaan melalui program yang memberdayakan. Pelatihan ini adalah langkah konkret untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Basrie.

Selain pelatihan literasi keuangan, APR dan APRIL juga aktif menjalankan program pemberdayaan seperti pembinaan pembatik, pelatihan pemasaran digital, dan kolaborasi dengan pengrajin lokal.

Cerita Sukses dari Pelaku Ekraf

Salah satu peserta workshop, Yusmaini, pemilik Rumah Batik Yus Pelalawan, berbagi pengalaman positifnya.

“Kami benar-benar senang. Setiap pelatihan memberi kami ilmu baru, yang berdampak baik bagi usaha kami. Terima kasih kepada APR dan APRIL yang terus memberikan pembinaan berkala kepada kami,” ucap Yusmaini.

Hingga saat ini, sebanyak 89 mitra usaha lokal telah merasakan manfaat dari inisiatif pemberdayaan ini.

Masa Depan Ekonomi Kreatif yang Berkelanjutan

Dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Sobat Ekraf diharapkan bisa terus mengembangkan desa kreatif sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal. Langkah ini tak hanya memberikan peluang bagi pelaku usaha di desa, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan di Indonesia.

Artikel Terkait